BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR
BELAKANG
Dalam dunia industri saat ini dibutuhkan banyak bidang
keahlian yang harus dikuasai oleh para mahasiswa, guna bisa bersaing secara
kompetitif baik diregional maupun internasional serta berdaya guna bagi
masyarakat.
Untuk memenuhi kriteria bidang keahlian tersebut maka
Teknik Mesin Politeknik Banyuwangi memberikan kurikulum berbasis teknologi
manufaktur dalam Satuan Acara Perkuliahan Semester I dengan mata kuliah
Teknologi Mekanik I dan Praktikum Teknologi Mekanik I, yang memiliki beban
studi yang wajib ditempuh oleh Mahasiswa masing - masing 2 SKS untuk teori
dengan alokasi 2 jam pembelajaran per minggu dan 1 SKS praktek dengan alokasi 6
jam per minggu. Pada mata kuliah Teknologi Mekanik I beserta Praktikumnya lebih
ditekankan pada penggunaan perkakas tangan dan perbengkelan dalam bentuk Kerja
Bangku hal ini dikarenakan sebagai dasar untuk mengasah keahlian/skill
mahasiswa.
Dengan demikian diharapkan Mahasiswa dapat memahami
menguasai tentang bagaimana cara atau teknik penggunaan alat – alat perkakas
tangan yang dilakukan dalam bentuk Kerja Bangku dengan baik sesuai SOP
(Standart Operasional Procedure) sebagai tumpuan dasar dari pengembangan keahlian
untuk Teknologi Mekanik II dan III selanjutnya. Disamping itu mahasiswa dapat
mengetahui bagaimana cara/teknik merawat alat – alat perkakas tangan sesuai
petunjuk Maintenance Operasional Prosedure.
1.2 TUJUAN PRAKTIKUM
1.2.1 Tujuan Umum
1.
Mahasiswa
mengerti teknik-teknik kerja bangku.
2.
Mahasiswa
dapat mengaplikasikan teknik-teknik kerja bangku pada praktek.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.
Mahasiswa
dapat menggunakan alat-alat yang digunakan dengan baik dan benar dalam kerja
bangku seperti ragum, kikir, palu, gergaji, mesin bor, gerinda, stamping dan
penggoresan, penguliran tap, alat ukur serta tata letak peralatan kerja bangku
yang benar.
2.
Mahasiswa
dapat menyelesaikan pekerjaan kerja bangku dengan baik sesuai gambar kerja.
BAB II
DASAR TEORI DAN PERALATAN KERJA BANGKU
2.1 RAGUM
Ragum
(Gambar 2.1) adalah alat untuk menjepit benda kerja untuk membuka rahang ragum
dilakukan dengan cara memutar tangkai/tuas pemutar ke arah kiri (berlawanan
arah jarum jam) sehingga batang berulir akan menarik landasan tidak tetap pada
rahang tersebut, demikian pula sebaliknya untuk pekerjaan pengikatan benda
kerja tangkai pemutar diputar ke arah kanan (searah jarum jam).

Gambar 2.1 Bagian – bagian Ragum
Rahang penjepit diberi
landasan terbuat dari besi tuang yang permukaannya pada umumnya diberi parutan
bersilang agar penjepitan lebih kuat dan tidak licin, sehingga apabila menjepit
benda kerja yang halus dan dikawatirkan akan rusak permukaannya maka disarankan
untuk memberi lapisan pelindung berupa plat yang dapat menjaga permukaan benda
kerja tersebut. Namun ada juga jenis ragum kerja bangku yang rahang penjepitnya
dibuat rata dan halus (digerinda), dimana jenis ragum ini digunakan untuk
menjepit benda kerja yang sudah memiliki permukaaan rata.

Gambar 2.2 Pencekaman
benda kerja
1. Jenis penjepit depan tidak dapat digerakkan
Dalam pekerjaan mesin dan
pertukangan, ragum yang sering digunakan adalah ragum sejajar. Rahang yang
bergerak digerakkan oleh poros berulir dan bergerak ke belakang.

Gambar 2.3 Ragum
Jenis penjepit depan tidak dapat digerakkan
2. Jenis penjepit belakang tidak dapat digerakkan
Jenis ini dirancang untuk
menjepit benda kerja yang panjang atau besar pada posisi tegak. Apabila rahang
digerakan ke depan/ digunakan benda kerja akan menjulur ke bawah bebas dimuka
bangku kerja.

Gambar 2.4 Ragum
Jenis penjepit belakang tidak dapat
digerakkan
Ketinggian ragum harus
diatur sesuai dengan kebutuhan pengerjaan. Untuk pengerjaan kasar, di mana
tenaga pengerjaan diperlukan lebih besar, tinggi ragum diatur lebih rendah.
Untuk pengerjaan presisi, ragum diatur lebih tinggi dan untuk pengerjaan yang
umum, tinggi ragum diatur setinggi siku pada lengan (Gambar 2.5.c).
1. Ketinggian ragum untuk seorang mekanik atau pekerja
mesin.

Gambar 2.5 a. Jarak ketinggian ragum pekerja mesin.
2.
Ketinggian ragum untuk
pembuatan perkakas.

Gambar 2.5 b. Jarak ketinggian ragum pekerjaan perkakas.
3.
Ketinggian ragum untuk
pekerjaan perkakas sangat teliti.

Gambar 2.5 c. Jarak ketinggian ragum pekerjaan perkakas
teliti.
2.2 KIKIR
Kikir (Gambar 2.6) adalah
suatu alat untuk mengikir benda kerja agar diperoleh permukaan yang rata dan
halus yang dilakukan dengan tangan. Kikir terbuat dari baja karbon tinggi yang
ditempa yang disesuaikan dengan ukuran panjang, bentuk, jenis dan gigi pemotongnya.

Gambar
2.6 Geometri kikir.
Spesifikasi kikir meliputi jenis gigi,
kekasaran gigi, penampang dan panjang.
- Klasifikasi kikir berdasarkan bentuk penampangnya.

Gambar 2.7 Bentuk
penampang kikir.
- Klasifikasi kikir berdasarkan jenis gigi
Pengelompokan kikir
berdasarkan jenis gigi (Gambar 2.8) terbagi dalam dua jenis yaitu single cut
dan double cut di mana jenis single cut umumnya digunakan
untuk pekerjaan finishing dan double cut digunakan untuk
pekerjaan awal.

Gambar
2.8. Kikir single cut dan kikir double cut
- Klasifikasi kikir berdasarkan kode kekasaran gigi
Untuk dapat menghasilkan
pengikiran yang maksimal, pemilihan kikir harus sesuai dengan jenis pekerjaan
dan hasil pengikiran yang dikehendaki. Tabel 1 memperlihatkan Pengelompokan kikir
berdasarkan kode kekasaran gigi dan penggunaannya.
Tabel 1. Pengelompokan kikir berdasarkan kode kekasaran
gigi dan Penggunaannya

- Klasifikasi kikir berdasarkan penampang dan kegunaan.
Pemilihan penampang kikir
hendaknya disesuaikan dengan profil (bentuk) dari penampang benda kerja yang
akan dibuat, sehingga mudah mendapatkan bentuk yang diinginkan. Tabel 2
memperlihatkan pengelompokan kikir berdasarkan penampang dan penggunaannya.
Tabel 2. Pengelompokan kikir berdasarkan penampang dan Penggunaannya.


- Klasifikasi kikir berdasarkan ukuran panjang
Ukuran kikir yang banyak
digunakan di indusri dan lembaga pendidikan berkisar antara panjang 4 inchi
sampai dengan 12 inchi. Penggunaan kikir berdasarkan ukuran panjang disesuaikan
dengan kebutuhan pekerjaan, dalam hal ini tentunya pekerjaan yang besar perlu
menggunakan kikir yang panjang.
2.2.1 Cara Penggunaan Kikir
Selama digunakan kikir
harus dipegang dengan kuat namun tidak membuat jari dan pergelangan terasa
pegal dan cepat lelah. Cara pemegangan dan penekanan kikir disesuaikan dengan
ukuran kikir dan sifat pengerjaan. Cara yang memegang kikir yang benar, tangan
kanan memegang gagang kikir dengan erat dan kuat, sehingga ujung kikir tertekan
oleh ujung ibu jari kanan pada bagian atasnya (gambar 2.9a). Telapak tangan
kiri ditempatkan pada ujung kikir, ujung jari dirapatkan dan dibengkokkan
kebawah (gambar 2.9b). Tabel 3 menunjukkan pemegangan kikir untuk berbagai
ukuran dan kebutuhan pengikiran.

Gambar 2.9 Cara memegang
kikir.
Tabel 3. Pemegangan kikir untuk berbagai kebutuhan
pengerjaan

2.2.2 Penekanan Kikir
Penekanan pada kikir tergantung pada ukuran
kikir dan benda kerja, pada pengikiran yang panjang tangan kanan mendorong dan
menekan, tangan kiri hanya menekan ketika mendorong, pada proses pemotongan
kikir didorong ke depan dengan tekanan dan pada langkah kembali tanpa tekanan.

Gambar
2.10 Penekanan pada proses pengikiran
2.2.3
Gerakan Badan dan Ayunan Pengikiran
Mengikir merupakan suatu pekerjaan yang
sepenuhnya menggunakan anggota badan dan tenaga yang cukup besar serta
berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini tentunya perlu disertai
dengan kenyamanan kerja dalam artian antara gerakan badan, pengaturan tenaga
dan perasaan dapat berjalan secara serasi. Jika tidak bisa berakibat vatal, cepat lelah dan badan
akan terasa sakit-sakit. Disadari bahwa kondisi postur tubuh setiap orang
tentunya berbeda tetapi bagaimana mengikir dapat dilakukan dengan cara yang
cocok dan nyaman. Namun secara umum ketinggian ragum, posisi kaki dan gerakan
badan tidak jauh berbeda, sebagai pendekatan kesesuaian itu dapat
diilustrasikan sebagai berikut :

Gambar 2.11 Kedudukan kaki dan sikap tubuh yang baik
selama proses pengikiran
2.2.4
Macam-macam Pengikiran
a. Pengikiran
lapisan keras kulit benda kerja (lapisan terak).
Gigi kikir
memenuhi semua badan kikir, ada gigi samping dan ada gigi muka. Gigi-gigi ini
dibuat dengan fungsi yang berbeda. Gigi samping atau bagian ujung kikir digunakan
untuk membuang lapisan yang keras, seperti lapisan terak/karbon pada kulit
benda kerja sebagai akibat pembentukan proses panas, atau permukaan hasil
pemotongan dengan las karbit/asetilin. Sedangkan gigi muka digunakan untuk
pengkiran permukaan yang lunak.

Gambar 2.12 Pengikiran lapisan terak benda
kerja
b. Mengikir rata.
Pada pengikiran rata seperti yang ditunjukkan
pada gambar 3.4 benda kerja dicekam ke ragum sedemikian rupa sehingga
pencekaman tidak menyebabkan benda kerja tersebut berubah bentuk atau bengkok.
1.
Pengikiran memanjang
Pengikiran memanjang, kikir digunakan sejajar
dengan sisi panjang benda kerja.

Gambar 2.14
Pengikiran memanjang
2.
Pengikiran melintang
Pengikiran melintang,
kikir digunakan sejajar dengan sisi melintang dengan benda kerja.

Gambar 2.15
Pengikiran melintang
3.
Pengikiran menyilang
Untuk mendapatkan hasil pengikiran yang baik,
setelah pengikiran mendekati kerataan, kemudian dilanjutkan pengikiran
menyilang dengan sudut 60 derajat terhadap sisi memanjang (lihat gambar 2.16).
proses ini umumnya dilakukan pada pengerjaan akhir.

Gambar 2.16
Pengikiran melintang
c. Pengikiran
radius luar.
Langkah-langkah
pengikiran radius luar adalah sebagai berikut :
1.
Menggunakan mal radius untuk memeriksa besarnya
radius.

Gambar 2.17.a
Mal radius
2.
Menandai batas radius.

Gambar 2.17.b Penandaan batas radius
3.
Pengikiran memanjang.

Gambar 2.17.c Pengikiran memanjang
4.
Pengikiran menyilang.

Gambar 2.17.d Penandaan batas radius
5.
Pengikiran radius dengan
gerakan berayun.

Gambar 2.17.e Pengikiran radius.
d. Pengikiran radius dalam.
Langkah-langkah
penguikiran radius dalam adalah :
- Gambar 2.18a menggunakan kikir setengah bulat dan nmal radius dalam.
- Gambar 2.18b menggerakkan kikir kedepan seperti pada pengikiran rata untuk mencapai radius yang diinginkan disamping pengikiran lurus kedepan, kikir juga digeser memutar, penggerseran ini secukupnya tidak menimbulkan pinggiran yang bergigi.

Gambar 2.18 Pengikiran radius dalam
2.2.5 Memeriksa Kerataan Pengikiran
Untuk memastikan kerataan permukaan hasil pengikiran yang
digunakan beberapa alat :
- Penyiku.
Penyiku
disamping digunakan untuk memeriksa kesikuan juga
dapat digunakan untuk memeriksa kerataan awal suatu permukaan benda kerja yang
masih kasar.
- Pisau perata.
Pisau
perata adalah suatu alat sensitif, oleh karena itu penggunaannya harus
hati-hati, alat ini digunakan untuk memeriksa kerataan permukaan setelah proses
pengerjaan akhir. Adapun langkah pemeriksaannya sebagai berikut ; tempatkan
pisau perata tegak lurus diatas permukaan benda kerja, dalam beberapa posisi
yang berbeda yaitu memanjang, menyilang dan melintang.
Catatan
:
|

Gambar 2.19 Pisau
perata.
2.3 PALU
Palu dipergunakan untuk memukul benda kerja pada
pekerjaan memahat, mengeling, membengkok dan sebagainya. Menurut bentuknya palu
dibedakan dalam beberapa jenis yaitu palu pen (Gambar 2.20a) mukanya bulat dan
bentuk kepalanya lancip, palu konde (Gambar 2.20b) bentuk muka bulat dan
puncaknya seperti bola, palu pen muka segi empat dan puncaknya lancip (Gambar 2.20c)
serta palu tembaga (Gambar 2.20d).

Gambar
2.20. Palu
Untuk dapat dipergunakan palu tersebut diberi
tangkai (Gambar 2.21) yang terbuat dari bahan kayu liat dan berurat lurus.

Gambar
2.21. Tangkai palu
Palu lain yang digunakan pada pekerjaan kerja
bangku atau kerja plat dapat dilihat pada gambar 61. Palu lunak (Gb 61 a)
terbuat dari bahan kulit biasanya untuk pengerjaan penyetelan atau pengepasan. Palu
karet/plastik yang dikeraskan (Gb 61 b) untuk penggunaan yang sama seperti palu
kulit. Palu kayu (Gb 61 c) digunakan untuk memukul bahan lunak/lembek seperti
seng, plat logam tipis dan sebagainya.


Gambar 2.22 Palu lunak Gambar 2.23 Penggunaan Palu
2.4 PENGGORES
Penggores
baja adalah alat yang digunakan untuk penandaan ukuran dan penggambaran pada
pekerjaan kerja bangku, dengan cara menggoreskan ujung yang lancip pada benda
kerja.
Jenis –
jenis penggores baja :
- penggores sederhana.

- penggores dengan salah satu ujung bengkok.

- penggores dengan ujung yang dapat dipindahkan.

Gambar
2.24 Penggores Baja (1,2,3)
Cara penggoresan :
-
penggores
lurus digunakan miring dari arah pengarahnya.
-
penyiku
atau mistar baja ditekan dengan tangan kiri pada benda kerja dengan kuat dan
penggores dipegang tangan kanan, penggoresan disarankan hanya satu kali untuk
menghindari tumpukan garis goresan atau goresan ganda.
-
lihat sub bab 2.4 penandaan
(marking out)

Gambar 2.25 Teknik
Penggoresan
Cara
penandaan :
-
tekan penggaris pada benda
kerja, gores sekali.
-
arahkan goresan sesuai panah
pada gambar.
2.5 PENANDAAN (MARKING OUT)
1. Penandaan dengan mistar baja – Penyiku
Langkah –langkah penandaan :
- Gunakan mistar baja dan tempatkan pada benda kerja dengan sisi A sebagai patokannya.
- Buat tanda garis pengukuran pada salah satu sisinya.
- Tempatkan penyiku pada benda kerja hingga sisinya rapat dengan sisi patokan B pada benda kerja.
- Geser penyiku sehingga sisinya yang panjang tepat berada pada tanda garis pengukuran.
- Buatlah tanda garis dengan penggores.

Gambar 2.26 Teknik
Penandaan
2. Penandaan
dengan Jangka
Tujuan
penandaan ini adalah untuk mendapatkan goresan dalam bentuk radius atau
lingkaran dengan menggunakan jangka.
a. Penitikan dan pemeriksaan
-
Penitikan,
pada benda kerja untuk mendapatkan titik pusat radius atau pusat lingkaran.
-
Pemeriksaan,
sebelum menggores benda kerja dengan jangka, harus diperiksa terlebih dahulu
ujung jangka tersebut, ujung jangka harus tajam setajam dengan penggores, dan
ujung tersebut harus saling bersentuhan dan mempunyai panjang ujung yang sama.

Gambar 2.27 Bentuk ujung
jangka
b.
Memindahkan ukuran
Langkah pemindahannya yaitu tempatkan satu ujung jangka
tersebut pada satu garis skala, kemudian aturlah kaki – kaki jangka tersebut
dan letakkan ujung yang satunya lagi suatu ukuran yang dikehendaki.

Gambar 2.28 Pemindahan
ukuran
c.
Menggunakan jangka
1.
Tempatkan
salah satu kaki jangka pegas pada titik pusat lingkaran, kemudian peganglah
tuas pemegang dari jangka tersebut dengan memiringkan pada arah putaran.

Gambar 2.29 Penggunaan
jangka
2.
Untuk
mendapatkan goresan lurus sejajar dengan benda kerja dengan jangka penggores,
langkahnya sebagai berikut :
–
Poleslah
permukaan benda kerja yang akan digores.
–
Atur
jarak kaki sesuai dengan yang dikehendaki.
–
Letakkan
kaki jangka yang bengkok pada bidang patokan.
–
Goreslah
benda kerja dengan kaki jangka yang runcing dengan jalan menggeser kaki jangka
sepanjang yang dikehendaki.

Gambar 2.30 Mendapatkan
garis lurus dengan jangka
3. Mencari titik pusat
pada bidang lingkaran
Dengan jangka penggaris, langkah –
langkahnya :
-
Poleslah
bidang benda kerja yang akan dicari titik pusatnya dengan kapur.
-
Atur
jarak kaki jangka, jaraknya harus lebih kecil dari radius (min 2 mm).
-
Letakkan
kaki jangka yang bengkok pada tepi benda kerja dengan kaki jangka yang runcing.
-
Ulangi
pada sisi lainnya, dengan jalan memutar benda kerja masing – masing 900,
sehingga saling berpotongan.
-
Tariklah
garis pada titik potong busur sehingga berpotongan ditengah. Maka titik potong
tersebut merupakan titik pusat dari benda kerja tersebut.

Gambar 2.31 Mencari titik pusat dengan jangka
2.6
PENITIK
Penitikan
adalah proses pembuatan 1 (satu) lubang – lubang kecil pada permukaan benda
kerja dengan suatu alat yang disebut penitik (center punch), dengan berpedoman
garis – garis atau perpotongan garis. Adapun tujuan penitikan adalah untuk :
-
Untuk
menjelaskan garis – garis hasil goresan.
-
Membuat
titik pusat pada awal proses pengeboran.
-
Untuk membuat atau
menjelaskan garis sampai pada bagaian yang dikerjakan.

Gambar 2.32 Jenis – jenis penitik

Gambar 2.33 Bekas lubang dari penitikan
Ujung
penitik memiliki standar sudut antara 300 - 900, sudut
tersebut yang memiliki fungsi tersendiri :
-
Yang
bersudut 300 digunakan untuk penitikan pada umumnya.
-
Yang
bersudut 600 digunakan untuk menjelaskan garis sampai pada bagian
yang akan dikerjakan dan juga untuk menitik benda kerja yang akan dibor.
-
Yang bersudut 900
untuk penitikan yangv akan dibor berdiameter besar.

Gambar 2.34 Penggunaan macam – macam penitik
Teknik penitikan :
-
Tempatkan
benda kerja pada landasan, pegang penitik dan ujung penitik tepatkan pada garis
potong.
-
Penitik
posisikan tegak lurus pada benda kerja, kemudian dipukul dengan palu dengan beban
ringan, lalu dilihat hasilnya. Bila sudah tepat, posisinya dikembalikan dan
dipukul lebih keras, sehingga hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.


Gambar 2.35 Teknik penitikan
Berikut
hasil penitikan yang baik dan benar seperti ditunjukkan pada gambar 2.36 a dan
pada gambar 2.36b hasil penitikan yang salah harus dihindarkan.

Gambar 2.36 Teknik penitikan
2.7 PENGECAPAN (STAMPING)
Alat pengecapan terbuat dari baja paduan yang tidak
dikeraskan karena sifatnya harus ulet (tought) dan cukup keras bisa
mengalahkan benda yang di-stamping. Pengecapan digunakan untuk menandai/memberi
identitas suatu produk/benda kerja yang terbuat dari logam. Namun demikian
produk/benda kerja yang terbuat dari logam digunakan pada logam yang keras.

Gambar 2.37 Penyusunan stamping
Spesifikasi stempel dibedakan menurut ukuran dan jenis
huruf atau angka. Jenis huruf ada yang timbul dan ada pula yang masuk.
Ukuran stempel ditentukan oleh ukuran tinggi huruf/angka dan ukuran yang banyak
dipakai mulai dari 2 mm sampai 10 mm.
Berikut beberapa langkah
persiapan dalam proses mengecap (stamping) :
-
Letakkan stamping di atas bangku kerja, secara
berderet dengan angka atau huruf menghadap pada posisi didepan pandangan
operator, dan sebaiknya pengecapan dimulai dari kanan menghadap pada posisi
didepan pandangan operator dan pengecapan dilakukan dimulai dari arah kanan ke
kiri untuk mempermudah penglihatan terhadap hasil pengecapan.
-
Jika mungkin tandai benda kerja dengan garis
bantu sesuai dengan ukuran stamping.
-
Tentukan ruang atau tempat dimana teks yang
dicapkan agar teratur hasilnya.
-
Usahakan semua huruf atau angka pada stamping
bersih dari kotoran/beram.
-
Letakkan benda kerja yang akan dicap pada
permukaan besi cor yang rata atau dicekam pada ragum dengan kuat.
Berikut teknik – teknik dalam proses stamping
:
-
Letakkan stamping pada benda kerja, miringkan
sedikit menghadap ke pandangan operator, diatas garis bantu.
-
Tarik stamping dengan hati – hati bergaris
menyentuh permukaan benda kerja yang sudah rata.
-
Pukul ringan satu kali dengan palu dengan
stamping menghadap ke pandangan operator dan tegak lurus.
-
Periksa apakah hasilnya sudah tepat digaris
bantu dan tegak lurus.
-
Bila posisinya belum tepat/miring, diulangi
lagi dengan menepatkan posisinya dan dipukul ringan.
-
Bila posisinya sudah tepat, stamping
dikembalikan ke posisi yang tepat lalu dipukul keras (secukupnya) dengan palu.


Gambar 2.38 Teknik stamping
Untuk pembetulan bila terjadi kesalahan dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
-
Tempatkan kembali stamping pada bekas
pengecapan, kemudian betulkan dengan cara memutar stamping searah atau
berlawanan dengan arah jarum jam.
-
Pada permukaan pukulan dengan tangan saja,
setelah diadakan pembetulan baru dipukul dengan palu agak keras sehingga
kedalaman sama.
-
Terakhir hilangkan semua tonjolan – tonjolan
yang terjadi dengan menggunakan kikir.
2.8 MENGGERGAJI
Daun gergaji tangan (Gambar 89) merupakan alat pemotong
dan pembuat alur yang sederhana, bagian sisinya terdapat gigi-gigi pemotong
yang dikeraskan. Bahan daun gergaji pada umumnya terbuat dari baja perkakas (tool
steel), baja kecepatan tinggi (HSS high speed steel) dan baja
tungsten (tungsten steel).

Gambar 2.39 Arah pemotongan gigi gergaji
Berikut langkah – langkah
persiapan menggergaji :
-
Sebelum melakukan penggergajian, terlebih
dahulu dilakukan penyetelan pada daun gergaji, daun gergaji harus ditegangkan
pada bingkainya dengan gigi gergaji menghadap kedepan atau kearah pemotongan
dan harus kuat menahan tekanan akibat penggergajian, apabila tidak maka
pemotongan akan menyimpang.
-
Tandai permukaan benda kerja dengan garis
sebelum dilakukan penggergajian, supaya mudah pengontrolan arah penggergajian.
Sedangkan posisi tubuh dan gerakan menggergaji yaitu pegang
bingkai gergaji dengan kuat/mantap, posisi tubuh sama dengan seperti pada waktu
mengikir, gerakan maju pada proses menggergaji harus mantap dan waktu bergerak
ke belakang harus dinaikkan sedikit supaya daun gergaji tidak tumpul. Kecepatan gerakan proses
menggergaji adalah :
-
50 – 60 langkah tiap menit, untuk baja.
-
70 – 90 langkah tiap menit untuk bahan yang
lebih lunak.
Sebaiknya dalam proses menggergaji menggunakan
media/bahan pendingin yang sesuai agar daun gergaji tidak cepat tumpul dan aus.

Gambar 2.40 Proses menggergaji
Berikut ini teknik/langkah
menggergaji :
-
Sebelum pemotongan dimulai buat alur pada
benda kerja dengan kikir segitiga/penggores yang akan digergaji. Letakkan
gergaji pada alur tersebut dan miringkan kedepan kira – kira 100.
Tekanan yang tidak cukup kuat pada permukaan pemotongan akan menyebabkan gigi
gergaji menggesek benda kerja dan menjadi tumpul. Jadi harus ditekan dengan
kuat dan ayunkan gergaji pelan – pelan.

Gambar 2.41 Awal menggergaji dan sudut penggergajian
-
Menggergaji sudut benda kerja yang tajam
diatas 100 akan menyebabkan gigi – gigi gergaji patah.
-
Benda kerja yang tipis harus dipotong dengan
posisi mendatar atau gergaji tidak dimiringkan.
-
Paling sedikit 2 atau 3 gigi gergaji yang
menempel pada permukaan benda kerja yang digergaji.
-
Mulailah dari sisi depan
dengan posisi gergaji menukik dengan kemiringan sedang (lihat gambar 2.40 dan
2.41).
-
Tekanan diberikan saat
gergaji didorong kedepan dan tekanan dikurangi pada saat gergaji ditarik mundur.
2.9 PAHAT TANGAN
Pahat atau biasa disebut pahat tangan (Gambar 2.42),
digunakan untuk bermacam-macam keperluan tergantung pada bentuk pahat itu yang
diantaranya untuk memotong, membuat alur, meratakan bidang, membuat sudut,
memperbaiki titik pusat dan sebagainya.

Gambar 2.42 Pahat tangan
Jenis –
jenis pahat :
1.
Pahat
picak.
Pahat
picak digunakan untuk memotong pelat logam, memotong logam pada logam yang
mempunyai permukaan yang tidak rata, memotong kepala paku keeling dan merusak
kepala baut.

Gambar 2.43 Pahat picak
2.
Pahat
alur.
Pahat
alur digunakan untuk membuat alur – alur sejajar dan membagi permukaan yang
besar sebelum dipotong dengan pahat picak. Sisi potong sedikit lebih besar
daripada badan potongnya. Ini dimaksudkan untuk menghindari penjepitan pada
badan pahat alur.

Gambar 2.44 Pahat alur
3.
Pahat
Bundar (pahat alur minyak).
Pahat
bundar dipergunakan untuk membuat alur saluran minyak pada bantalan (bearing).

Gambar 2.45 Pahat bundar
4.
Pahat
Intan.
Pahat
intan digunakan untuk membuat alur – alur yang berbentuk V pada logam,
membersihkan sudut – sudut dalam dan memotong pada sudut siku – siku.

Gambar 2.46 Pahat intan
Cara atau teknik memegang pahat dan
mengarahkan pahat, menurut bentuk dan ukurannya adalah sebagai berikut :
-
Untuk
pahat kecil menggunakan 3 jari.
-
Untuk pahat yang sedang
menggunakan 5 jari.
-
Untuk pahat yang besar
dengan menggenggam pahat.



Gambar 2.47 Teknik memegang pahat
Faktor yang perlu diperhatikan dalam pemahatan sebagai
berikut :
-
Arah mata
Pada waktu memahat, mata harus tertuju pada
mata pahat (Gambar 104). Karena dengan melihat ke arah mata pahat diharapkan sasaran
pahatan dapat tercapai.
-
Selama pemukulan sumbu dari paku besi harus
lurus dengan sumbu pahat.
-
Lindungi orang lain dari tatal – tatal yang berterbangan.
-
Kepala pahat harus dijaga bentuknya,
diperbaiki dengan menggerinda.

Gambar 2.47 Sikap pandangan mata dan tubuh saat pemahatan
-
Kedudukan pahat.
Pada waktu memotong baja pelat, maka kedudukan
pahat harus dimiringkan ± 30º terhadap benda kerja Gambar 105.

Gambar 2.48 Kedudukan pahat
2.10 PEMBUATAN ULIR
2.10.1 Pembuatan Ulir Dalam
Tap adalah suatu alat yang digunakan untuk membuat ulir
dalam dengan tangan atau mesin. Tap ini dibuat berbentuk ulir luar yang digerinda
dengan tiga atau lebih lekukan memanjang, yang disebut alur. Alur inilah yang
membentuk sisi-sisi pemotongnya. Tap dibuat dari bahan baja dengan kecepatan
tinggi. Ada juga yang terbuat dari bahan baja karbon yang dikeraskan.

Gambar 2.49 Jenis Tap ulir
Dalam pembuatan ulir yang harus diperhatikan adalah
syarat dua buah ulir luar-dalam dapat dipasangkan :
- Jenis ulir harus sama.
- Diameter ulir bersuaian.
- Pits / Gangs ulir harus sama.
Perhatikan gambar 2.49 diatas dimana tiap satu set dari 3
buah tap yaitu tap no.1 (Intermediate tap) mata potongnya tirus
digunakan untuk pengetapan langkah awal, kemudian dilanjutkan dengan tap
no. 2 (Tapper tap) untuk pembentukan ulir, sedangkan tap no. 3 (Botoming
tap) dipergunakan untuk penyelesaian.
Contoh penulisan spesifikasi tap dan snei adalah sebagai berikut :
- Tap/snei M10 x 1,5.
Artinya adalah : M = Jenis ulir metrik
10 = Diameter nominal ulir dalam mm
1,5 = Kisar ulir
- Tap/snei W 1/4 x 20, W 3/8 x 16.
Artinya
adalah : W = Jenis ulir Witworth
¼ =
Diameter nominal ulir dalam inchi
20 = Jumlah gang ulir sepanjang satu inchi
Perlengkapan dan pemeriksaan
Pemegang
tap (Stang tap) harus mempunyai ukuran yang sesuai dan memadai, sehingga
memungkinkan penjepitan dengan baik pada bagian kepala tap segi empat pada
tangkai tap.
Gambar 10.1 buku poltek
hal 45.

Gambar 2.50 Pemegang tap
ulir
Berikut beberapa
teknik/cara pengetapan dengan tangan :
-
Melubangi benda kerja dengan mata bor yang
diameternya sesuai.
-
Countersink lubang benda kerja yang akan di
Tap, dengan diameter terbesar sesuai dengan kebutuhan.
-
Jepit tap No. 1 dalam pemegang tap (stang
tap).
-
Lakukan pengetapan dengan tekanan searah
dengan lubang, supaya tap memotong atau membuat ulir, gunakan Olie/pelumas
pemotong untuk logam, putar selama beberapa kali putaran.
-
Periksa dengan penyiku apakah sudah tegak
lurus terhadap lubangnya.
-
Apabila kedudukan tap miring, dapat diperbaiki
dengan memberi tekanan yang ringan pada bagian yang berlawanan sambil memegang
tap diputar. Setelah kedudukan tap lurus, dianjurkan untuk memutar tap dengan
setengah putaran kearah sebaliknya untuk memotong beram – beramnya. Untuk
pengetapan yang dalam
sebaiknya permukaan kembali sampai keluar untuk mengeluarkan beram – beramnya.
-
Periksa kembali dengan penyiku.
-
Lanjutkan pengetapan dengan tap No. 2 dan kemudian tap
No. 3.
2.11 PENGGARIS SIKU
Siku adalah alat yang digunakanuntuk mengukur kerataan benda kerja , menarik
garis-garis pada benda
kerja dan membuat sudut 90̊ atau siku-siku.
Caramenggunakanya adalah dengan menempatkan siku tegak lurus dengan benda kerja. Kemudian dilihat permukaan benda
apakahsudah rata atau siku-siku dengan cara menggerakkan siku ini kedepan dan kebelakang. Apabila masih
terlihat lubang pada permukaan benda kerja tersebutberarti permukaan tersebut
belum rata


Tidak ada komentar:
Posting Komentar