Minggu, 16 Maret 2014

latar belakang tugas laporan



BAB I
PENDAHULUAN




1.1 LATAR BELAKANG
            Dalam dunia industri saat ini dibutuhkan banyak bidang keahlian yang harus dikuasai oleh para mahasiswa, guna bisa bersaing secara kompetitif baik diregional maupun internasional serta berdaya guna bagi masyarakat.
            Untuk memenuhi kriteria bidang keahlian tersebut maka Teknik Mesin Politeknik Banyuwangi memberikan kurikulum berbasis teknologi manufaktur dalam Satuan Acara Perkuliahan Semester I dengan mata kuliah Teknologi Mekanik I dan Praktikum Teknologi Mekanik I, yang memiliki beban studi yang wajib ditempuh oleh Mahasiswa masing - masing 2 SKS untuk teori dengan alokasi 2 jam pembelajaran per minggu dan 1 SKS praktek dengan alokasi 6 jam per minggu. Pada mata kuliah Teknologi Mekanik I beserta Praktikumnya lebih ditekankan pada penggunaan perkakas tangan dan perbengkelan dalam bentuk Kerja Bangku hal ini dikarenakan sebagai dasar untuk mengasah keahlian/skill mahasiswa.
            Dengan demikian diharapkan Mahasiswa dapat memahami menguasai tentang bagaimana cara atau teknik penggunaan alat – alat perkakas tangan yang dilakukan dalam bentuk Kerja Bangku dengan baik sesuai SOP (Standart Operasional Procedure) sebagai tumpuan dasar dari pengembangan keahlian untuk Teknologi Mekanik II dan III selanjutnya. Disamping itu mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara/teknik merawat alat – alat perkakas tangan sesuai petunjuk Maintenance Operasional Prosedure.

1.2  TUJUAN PRAKTIKUM
1.2.1  Tujuan Umum
1.      Mahasiswa mengerti teknik-teknik kerja bangku.
2.      Mahasiswa dapat mengaplikasikan teknik-teknik kerja bangku pada praktek.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.      Mahasiswa dapat menggunakan alat-alat yang digunakan dengan baik dan benar dalam kerja bangku seperti ragum, kikir, palu, gergaji, mesin bor, gerinda, stamping dan penggoresan, penguliran tap, alat ukur serta tata letak peralatan kerja bangku yang benar.
2.      Mahasiswa dapat menyelesaikan pekerjaan kerja bangku dengan baik sesuai gambar kerja.
BAB II
DASAR TEORI DAN PERALATAN KERJA BANGKU

2.1 RAGUM
Ragum (Gambar 2.1) adalah alat untuk menjepit benda kerja untuk membuka rahang ragum dilakukan dengan cara memutar tangkai/tuas pemutar ke arah kiri (berlawanan arah jarum jam) sehingga batang berulir akan menarik landasan tidak tetap pada rahang tersebut, demikian pula sebaliknya untuk pekerjaan pengikatan benda kerja tangkai pemutar diputar ke arah kanan (searah jarum jam).
Gambar 2.1 Bagian – bagian Ragum

Rahang penjepit diberi landasan terbuat dari besi tuang yang permukaannya pada umumnya diberi parutan bersilang agar penjepitan lebih kuat dan tidak licin, sehingga apabila menjepit benda kerja yang halus dan dikawatirkan akan rusak permukaannya maka disarankan untuk memberi lapisan pelindung berupa plat yang dapat menjaga permukaan benda kerja tersebut. Namun ada juga jenis ragum kerja bangku yang rahang penjepitnya dibuat rata dan halus (digerinda), dimana jenis ragum ini digunakan untuk menjepit benda kerja yang sudah memiliki permukaaan rata.
         
Gambar 2.2  Pencekaman benda kerja

1.      Jenis penjepit depan tidak dapat digerakkan
Dalam pekerjaan mesin dan pertukangan, ragum yang sering digunakan adalah ragum sejajar. Rahang yang bergerak digerakkan oleh poros berulir dan bergerak ke belakang.
Gambar 2.3  Ragum Jenis penjepit depan tidak dapat digerakkan

2.      Jenis penjepit belakang tidak dapat digerakkan
Jenis ini dirancang untuk menjepit benda kerja yang panjang atau besar pada posisi tegak. Apabila rahang digerakan ke depan/ digunakan benda kerja akan menjulur ke bawah bebas dimuka bangku kerja.
Gambar 2.4  Ragum Jenis penjepit belakang  tidak dapat digerakkan

Ketinggian ragum harus diatur sesuai dengan kebutuhan pengerjaan. Untuk pengerjaan kasar, di mana tenaga pengerjaan diperlukan lebih besar, tinggi ragum diatur lebih rendah. Untuk pengerjaan presisi, ragum diatur lebih tinggi dan untuk pengerjaan yang umum, tinggi ragum diatur setinggi siku pada lengan (Gambar 2.5.c).
1.      Ketinggian ragum untuk seorang mekanik atau pekerja mesin.
Gambar 2.5 a. Jarak ketinggian ragum pekerja mesin.


2.      Ketinggian ragum untuk pembuatan perkakas.
Gambar 2.5 b. Jarak ketinggian ragum pekerjaan perkakas.

3.      Ketinggian ragum untuk pekerjaan perkakas sangat teliti.
Gambar 2.5 c. Jarak ketinggian ragum pekerjaan perkakas teliti.


2.2 KIKIR
Kikir (Gambar 2.6) adalah suatu alat untuk mengikir benda kerja agar diperoleh permukaan yang rata dan halus yang dilakukan dengan tangan. Kikir terbuat dari baja karbon tinggi yang ditempa yang disesuaikan dengan ukuran panjang, bentuk, jenis dan gigi pemotongnya.


Gambar 2.6  Geometri kikir.
Spesifikasi kikir meliputi jenis gigi, kekasaran gigi, penampang dan panjang.
  1. Klasifikasi kikir berdasarkan bentuk penampangnya.
Gambar 2.7  Bentuk penampang kikir.

  1. Klasifikasi kikir berdasarkan jenis gigi
Pengelompokan kikir berdasarkan jenis gigi (Gambar 2.8) terbagi dalam dua jenis yaitu single cut dan double cut di mana jenis single cut umumnya digunakan untuk pekerjaan finishing dan double cut digunakan untuk pekerjaan awal.
Gambar 2.8. Kikir single cut dan kikir double cut


  1. Klasifikasi kikir berdasarkan kode kekasaran gigi
Untuk dapat menghasilkan pengikiran yang maksimal, pemilihan kikir harus sesuai dengan jenis pekerjaan dan hasil pengikiran yang dikehendaki. Tabel 1 memperlihatkan Pengelompokan kikir berdasarkan kode kekasaran gigi dan penggunaannya.
Tabel 1. Pengelompokan kikir berdasarkan kode kekasaran gigi dan Penggunaannya

  1. Klasifikasi kikir berdasarkan penampang dan kegunaan.
Pemilihan penampang kikir hendaknya disesuaikan dengan profil (bentuk) dari penampang benda kerja yang akan dibuat, sehingga mudah mendapatkan bentuk yang diinginkan. Tabel 2 memperlihatkan pengelompokan kikir berdasarkan penampang dan penggunaannya.
Tabel 2. Pengelompokan kikir berdasarkan penampang dan Penggunaannya.
  1. Klasifikasi kikir berdasarkan ukuran panjang
Ukuran kikir yang banyak digunakan di indusri dan lembaga pendidikan berkisar antara panjang 4 inchi sampai dengan 12 inchi. Penggunaan kikir berdasarkan ukuran panjang disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan, dalam hal ini tentunya pekerjaan yang besar perlu menggunakan kikir yang panjang.

2.2.1 Cara Penggunaan Kikir
Selama digunakan kikir harus dipegang dengan kuat namun tidak membuat jari dan pergelangan terasa pegal dan cepat lelah. Cara pemegangan dan penekanan kikir disesuaikan dengan ukuran kikir dan sifat pengerjaan. Cara yang memegang kikir yang benar, tangan kanan memegang gagang kikir dengan erat dan kuat, sehingga ujung kikir tertekan oleh ujung ibu jari kanan pada bagian atasnya (gambar 2.9a). Telapak tangan kiri ditempatkan pada ujung kikir, ujung jari dirapatkan dan dibengkokkan kebawah (gambar 2.9b). Tabel 3 menunjukkan pemegangan kikir untuk berbagai ukuran dan kebutuhan pengikiran.
Gambar 2.9 Cara memegang kikir.

Tabel 3. Pemegangan kikir untuk berbagai kebutuhan pengerjaan

2.2.2  Penekanan Kikir
Penekanan pada kikir tergantung pada ukuran kikir dan benda kerja, pada pengikiran yang panjang tangan kanan mendorong dan menekan, tangan kiri hanya menekan ketika mendorong, pada proses pemotongan kikir didorong ke depan dengan tekanan dan pada langkah kembali tanpa tekanan.
Gambar 2.10 Penekanan pada proses pengikiran
2.2.3 Gerakan Badan dan Ayunan Pengikiran
Mengikir merupakan suatu pekerjaan yang sepenuhnya menggunakan anggota badan dan tenaga yang cukup besar serta berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini tentunya perlu disertai dengan kenyamanan kerja dalam artian antara gerakan badan, pengaturan tenaga dan perasaan dapat berjalan secara serasi. Jika tidak bisa berakibat vatal, cepat lelah dan badan akan terasa sakit-sakit. Disadari bahwa kondisi postur tubuh setiap orang tentunya berbeda tetapi bagaimana mengikir dapat dilakukan dengan cara yang cocok dan nyaman. Namun secara umum ketinggian ragum, posisi kaki dan gerakan badan tidak jauh berbeda, sebagai pendekatan kesesuaian itu dapat diilustrasikan sebagai berikut :
Gambar 2.11 Kedudukan kaki dan sikap tubuh yang baik selama proses pengikiran

2.2.4 Macam-macam Pengikiran
a. Pengikiran lapisan keras kulit benda kerja (lapisan terak).
Gigi kikir memenuhi semua badan kikir, ada gigi samping dan ada gigi muka. Gigi-gigi ini dibuat dengan fungsi yang berbeda. Gigi samping atau bagian ujung kikir digunakan untuk membuang lapisan yang keras, seperti lapisan terak/karbon pada kulit benda kerja sebagai akibat pembentukan proses panas, atau permukaan hasil pemotongan dengan las karbit/asetilin. Sedangkan gigi muka digunakan untuk pengkiran permukaan yang lunak.
Gambar 2.12 Pengikiran lapisan terak benda kerja

b. Mengikir rata.
Pada pengikiran rata seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.4 benda kerja dicekam ke ragum sedemikian rupa sehingga pencekaman tidak menyebabkan benda kerja tersebut berubah bentuk atau bengkok.
1.      Pengikiran memanjang
Pengikiran memanjang, kikir digunakan sejajar dengan sisi panjang benda kerja.
Description: kikir memanjang 1
Gambar 2.14 Pengikiran memanjang

2.      Pengikiran melintang
Pengikiran melintang, kikir digunakan sejajar dengan sisi melintang dengan benda kerja.
Description: kikir melintang
Gambar 2.15 Pengikiran melintang
3.      Pengikiran menyilang
Untuk mendapatkan hasil pengikiran yang baik, setelah pengikiran mendekati kerataan, kemudian dilanjutkan pengikiran menyilang dengan sudut 60 derajat terhadap sisi memanjang (lihat gambar 2.16). proses ini umumnya dilakukan pada pengerjaan akhir.
Description: kikir menyilang
Gambar 2.16 Pengikiran melintang
c. Pengikiran radius luar.
Langkah-langkah pengikiran radius luar adalah sebagai berikut :
1.      Menggunakan mal radius untuk memeriksa besarnya radius.

Description: mal radius
Gambar 2.17.a Mal radius

2.      Menandai batas radius.
Description: menandai batas radius
Gambar 2.17.b Penandaan batas radius

3.      Pengikiran memanjang.

Description: pengikirsn memanjang
Gambar 2.17.c Pengikiran memanjang

4.      Pengikiran menyilang.
Description: pengikirasn menyilang
Gambar 2.17.d Penandaan batas radius

5.      Pengikiran radius dengan gerakan berayun.
Description: pengikiran berayun radius
Gambar 2.17.e Pengikiran radius.
d. Pengikiran radius dalam.
Langkah-langkah penguikiran radius dalam adalah :
  1. Gambar 2.18a menggunakan kikir setengah bulat dan nmal radius dalam.
  2. Gambar 2.18b menggerakkan kikir kedepan seperti pada pengikiran rata untuk mencapai radius yang diinginkan disamping pengikiran lurus kedepan, kikir juga digeser memutar, penggerseran ini secukupnya tidak menimbulkan pinggiran yang bergigi.
Description: kikir radius dalam 2
Gambar 2.18 Pengikiran radius dalam

2.2.5 Memeriksa Kerataan Pengikiran
Untuk memastikan kerataan permukaan hasil pengikiran yang digunakan beberapa alat :
  1. Penyiku.
Penyiku disamping digunakan untuk memeriksa kesikuan juga dapat digunakan untuk memeriksa kerataan awal suatu permukaan benda kerja yang masih kasar.
  1. Pisau perata.
Pisau perata adalah suatu alat sensitif, oleh karena itu penggunaannya harus hati-hati, alat ini digunakan untuk memeriksa kerataan permukaan setelah proses pengerjaan akhir. Adapun langkah pemeriksaannya sebagai berikut ; tempatkan pisau perata tegak lurus diatas permukaan benda kerja, dalam beberapa posisi yang berbeda yaitu memanjang, menyilang dan melintang.
Catatan :
Description: pisau perata
 
Untuk menghindari kerusakan pisau perata, dalam pemakainnya tidak boleh digeser-geser pada permukaan benda kerja, pisau perata hanya boleh diletakkan dan diangkat untuk memeriksa kerataan yang lain.
Gambar 2.19  Pisau perata.



2.3 PALU
Palu dipergunakan untuk memukul benda kerja pada pekerjaan memahat, mengeling, membengkok dan sebagainya. Menurut bentuknya palu dibedakan dalam beberapa jenis yaitu palu pen (Gambar 2.20a) mukanya bulat dan bentuk kepalanya lancip, palu konde (Gambar 2.20b) bentuk muka bulat dan puncaknya seperti bola, palu pen muka segi empat dan puncaknya lancip (Gambar 2.20c) serta palu tembaga (Gambar 2.20d).
Gambar 2.20. Palu
Untuk dapat dipergunakan palu tersebut diberi tangkai (Gambar 2.21) yang terbuat dari bahan kayu liat dan berurat lurus.
Gambar 2.21. Tangkai palu
Palu lain yang digunakan pada pekerjaan kerja bangku atau kerja plat dapat dilihat pada gambar 61. Palu lunak (Gb 61 a) terbuat dari bahan kulit biasanya untuk pengerjaan penyetelan atau pengepasan. Palu karet/plastik yang dikeraskan (Gb 61 b) untuk penggunaan yang sama seperti palu kulit. Palu kayu (Gb 61 c) digunakan untuk memukul bahan lunak/lembek seperti seng, plat logam tipis dan sebagainya.
          
             Gambar 2.22 Palu lunak                                                Gambar 2.23 Penggunaan Palu

2.4 PENGGORES
Penggores baja adalah alat yang digunakan untuk penandaan ukuran dan penggambaran pada pekerjaan kerja bangku, dengan cara menggoreskan ujung yang lancip pada benda kerja.
Jenis – jenis penggores baja :
  1. penggores sederhana.

  1. penggores dengan salah satu ujung bengkok.

  1. penggores dengan ujung yang dapat dipindahkan.
Gambar 2.24 Penggores Baja (1,2,3)

Cara penggoresan :
-          penggores lurus digunakan miring dari arah pengarahnya.
-          penyiku atau mistar baja ditekan dengan tangan kiri pada benda kerja dengan kuat dan penggores dipegang tangan kanan, penggoresan disarankan hanya satu kali untuk menghindari tumpukan garis goresan atau goresan ganda.
-          lihat sub bab 2.4 penandaan (marking out)
 
Gambar 2.25 Teknik Penggoresan

Cara penandaan :
-          tekan penggaris pada benda kerja, gores sekali.
-          arahkan goresan sesuai panah pada gambar.



2.5 PENANDAAN (MARKING OUT)
1.  Penandaan dengan mistar baja – Penyiku
Langkah –langkah penandaan :
  1. Gunakan mistar baja dan tempatkan pada benda kerja dengan sisi A sebagai patokannya.
  2. Buat tanda garis pengukuran pada salah satu sisinya.
  3. Tempatkan penyiku pada benda kerja hingga sisinya rapat dengan sisi patokan B pada benda kerja.
  4. Geser penyiku sehingga sisinya yang panjang tepat berada pada tanda garis pengukuran.
  5. Buatlah tanda garis dengan penggores.

 
Gambar 2.26 Teknik Penandaan

2.  Penandaan dengan Jangka
Tujuan penandaan ini adalah untuk mendapatkan goresan dalam bentuk radius atau lingkaran dengan menggunakan jangka.
a.  Penitikan dan pemeriksaan
-       Penitikan, pada benda kerja untuk mendapatkan titik pusat radius atau pusat lingkaran.
-       Pemeriksaan, sebelum menggores benda kerja dengan jangka, harus diperiksa terlebih dahulu ujung jangka tersebut, ujung jangka harus tajam setajam dengan penggores, dan ujung tersebut harus saling bersentuhan dan mempunyai panjang ujung yang sama.
Description: ujung jarum
Gambar 2.27 Bentuk ujung jangka




b. Memindahkan ukuran
Langkah pemindahannya yaitu tempatkan satu ujung jangka tersebut pada satu garis skala, kemudian aturlah kaki – kaki jangka tersebut dan letakkan ujung yang satunya lagi suatu ukuran yang dikehendaki.
Gambar 2.28 Pemindahan ukuran

c. Menggunakan jangka
1.   Tempatkan salah satu kaki jangka pegas pada titik pusat lingkaran, kemudian peganglah tuas pemegang dari jangka tersebut dengan memiringkan pada arah putaran.
Description: penggunaan jangka
Gambar 2.29 Penggunaan jangka
2.   Untuk mendapatkan goresan lurus sejajar dengan benda kerja dengan jangka penggores, langkahnya sebagai berikut :
     Poleslah permukaan benda kerja yang akan digores.
     Atur jarak kaki sesuai dengan yang dikehendaki.
     Letakkan kaki jangka yang bengkok pada bidang patokan.
     Goreslah benda kerja dengan kaki jangka yang runcing dengan jalan menggeser kaki jangka sepanjang yang dikehendaki.

Description: mendapatkan garis lurus
Gambar 2.30 Mendapatkan garis lurus dengan jangka

3. Mencari titik pusat pada bidang lingkaran
    Dengan jangka penggaris, langkah – langkahnya :
-          Poleslah bidang benda kerja yang akan dicari titik pusatnya dengan kapur.
-          Atur jarak kaki jangka, jaraknya harus lebih kecil dari radius (min 2 mm).
-          Letakkan kaki jangka yang bengkok pada tepi benda kerja dengan kaki jangka yang runcing.
-          Ulangi pada sisi lainnya, dengan jalan memutar benda kerja masing – masing 900, sehingga saling berpotongan.
-          Tariklah garis pada titik potong busur sehingga berpotongan ditengah. Maka titik potong tersebut merupakan titik pusat dari benda kerja tersebut.

Description: mencari titikpusat dgn jangka
Gambar 2.31 Mencari titik pusat dengan jangka


2.6 PENITIK
Penitikan adalah proses pembuatan 1 (satu) lubang – lubang kecil pada permukaan benda kerja dengan suatu alat yang disebut penitik (center punch), dengan berpedoman garis – garis atau perpotongan garis. Adapun tujuan penitikan adalah untuk :
-          Untuk menjelaskan garis – garis hasil goresan.
-          Membuat titik pusat pada awal proses pengeboran.
-          Untuk membuat atau menjelaskan garis sampai pada bagaian yang dikerjakan.
         
Gambar 2.32 Jenis – jenis penitik
           
Gambar 2.33 Bekas lubang dari penitikan

Ujung penitik memiliki standar sudut antara 300 - 900, sudut tersebut yang memiliki fungsi tersendiri :
-          Yang bersudut 300 digunakan untuk penitikan pada umumnya.
-          Yang bersudut 600 digunakan untuk menjelaskan garis sampai pada bagian yang akan dikerjakan dan juga untuk menitik benda kerja yang akan dibor.
-          Yang bersudut 900 untuk penitikan yangv akan dibor berdiameter besar.
         Description: Penitik 1
Gambar 2.34 Penggunaan macam – macam penitik
Teknik penitikan :
-          Tempatkan benda kerja pada landasan, pegang penitik dan ujung penitik tepatkan pada garis potong.
-          Penitik posisikan tegak lurus pada benda kerja, kemudian dipukul dengan palu dengan beban ringan, lalu dilihat hasilnya. Bila sudah tepat, posisinya dikembalikan dan dipukul lebih keras, sehingga hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.
Description: teknik penitikan
Gambar 2.35 Teknik penitikan

Berikut hasil penitikan yang baik dan benar seperti ditunjukkan pada gambar 2.36 a dan pada gambar 2.36b hasil penitikan yang salah harus dihindarkan.
Description: hasil penitikan
Gambar 2.36 Teknik penitikan
2.7 PENGECAPAN (STAMPING)
Alat pengecapan terbuat dari baja paduan yang tidak dikeraskan karena sifatnya harus ulet (tought) dan cukup keras bisa mengalahkan benda yang di-stamping. Pengecapan digunakan untuk menandai/memberi identitas suatu produk/benda kerja yang terbuat dari logam. Namun demikian produk/benda kerja yang terbuat dari logam digunakan pada logam yang keras.
Description: stamping 1
Gambar 2.37 Penyusunan stamping

            Spesifikasi stempel dibedakan menurut ukuran dan jenis huruf atau angka. Jenis huruf ada yang timbul dan ada pula yang masuk. Ukuran stempel ditentukan oleh ukuran tinggi huruf/angka dan ukuran yang banyak dipakai mulai dari 2 mm sampai 10 mm.
Berikut beberapa langkah persiapan dalam proses mengecap (stamping) :
-          Letakkan stamping di atas bangku kerja, secara berderet dengan angka atau huruf menghadap pada posisi didepan pandangan operator, dan sebaiknya pengecapan dimulai dari kanan menghadap pada posisi didepan pandangan operator dan pengecapan dilakukan dimulai dari arah kanan ke kiri untuk mempermudah penglihatan terhadap hasil pengecapan.
-          Jika mungkin tandai benda kerja dengan garis bantu sesuai dengan ukuran stamping.
-          Tentukan ruang atau tempat dimana teks yang dicapkan agar teratur hasilnya.
-          Usahakan semua huruf atau angka pada stamping bersih dari kotoran/beram.
-          Letakkan benda kerja yang akan dicap pada permukaan besi cor yang rata atau dicekam pada ragum dengan kuat.

Berikut teknik – teknik dalam proses stamping :
-          Letakkan stamping pada benda kerja, miringkan sedikit menghadap ke pandangan operator, diatas garis bantu.
-          Tarik stamping dengan hati – hati bergaris menyentuh permukaan benda kerja yang sudah rata.
-          Pukul ringan satu kali dengan palu dengan stamping menghadap ke pandangan operator dan tegak lurus.
-          Periksa apakah hasilnya sudah tepat digaris bantu dan tegak lurus.
-          Bila posisinya belum tepat/miring, diulangi lagi dengan menepatkan posisinya dan dipukul ringan.
-          Bila posisinya sudah tepat, stamping dikembalikan ke posisi yang tepat lalu dipukul keras (secukupnya) dengan palu.

 
Description: cara stamping

Gambar 2.38 Teknik stamping

Untuk pembetulan bila terjadi kesalahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
-          Tempatkan kembali stamping pada bekas pengecapan, kemudian betulkan dengan cara memutar stamping searah atau berlawanan dengan arah jarum jam.
-          Pada permukaan pukulan dengan tangan saja, setelah diadakan pembetulan baru dipukul dengan palu agak keras sehingga kedalaman sama.
-          Terakhir hilangkan semua tonjolan – tonjolan yang terjadi dengan menggunakan kikir.







2.8  MENGGERGAJI
Daun gergaji tangan (Gambar 89) merupakan alat pemotong dan pembuat alur yang sederhana, bagian sisinya terdapat gigi-gigi pemotong yang dikeraskan. Bahan daun gergaji pada umumnya terbuat dari baja perkakas (tool steel), baja kecepatan tinggi (HSS high speed steel) dan baja tungsten (tungsten steel).
Gambar 2.39 Arah pemotongan gigi gergaji

Berikut langkah – langkah persiapan menggergaji :
-          Sebelum melakukan penggergajian, terlebih dahulu dilakukan penyetelan pada daun gergaji, daun gergaji harus ditegangkan pada bingkainya dengan gigi gergaji menghadap kedepan atau kearah pemotongan dan harus kuat menahan tekanan akibat penggergajian, apabila tidak maka pemotongan akan menyimpang.
-          Tandai permukaan benda kerja dengan garis sebelum dilakukan penggergajian, supaya mudah pengontrolan arah penggergajian.

Sedangkan posisi tubuh dan gerakan menggergaji yaitu pegang bingkai gergaji dengan kuat/mantap, posisi tubuh sama dengan seperti pada waktu mengikir, gerakan maju pada proses menggergaji harus mantap dan waktu bergerak ke belakang harus dinaikkan sedikit supaya daun gergaji tidak tumpul. Kecepatan gerakan proses menggergaji adalah :
-          50 – 60 langkah tiap menit, untuk baja.
-          70 – 90 langkah tiap menit untuk bahan yang lebih lunak.
Sebaiknya dalam proses menggergaji menggunakan media/bahan pendingin yang sesuai agar daun gergaji tidak cepat tumpul dan aus.

 
Gambar 2.40 Proses menggergaji

Berikut ini teknik/langkah menggergaji :
-          Sebelum pemotongan dimulai buat alur pada benda kerja dengan kikir segitiga/penggores yang akan digergaji. Letakkan gergaji pada alur tersebut dan miringkan kedepan kira – kira 100. Tekanan yang tidak cukup kuat pada permukaan pemotongan akan menyebabkan gigi gergaji menggesek benda kerja dan menjadi tumpul. Jadi harus ditekan dengan kuat dan ayunkan gergaji pelan – pelan.


     Description: gergaji 1
Gambar 2.41 Awal menggergaji dan sudut penggergajian

-          Menggergaji sudut benda kerja yang tajam diatas 100 akan menyebabkan gigi – gigi gergaji patah.
-          Benda kerja yang tipis harus dipotong dengan posisi mendatar atau gergaji tidak dimiringkan.
-          Paling sedikit 2 atau 3 gigi gergaji yang menempel pada permukaan benda kerja yang digergaji.
-          Mulailah dari sisi depan dengan posisi gergaji menukik dengan kemiringan sedang (lihat gambar 2.40 dan 2.41).
-          Tekanan diberikan saat gergaji didorong kedepan dan tekanan dikurangi pada saat gergaji ditarik mundur.

2.9 PAHAT TANGAN
Pahat atau biasa disebut pahat tangan (Gambar 2.42), digunakan untuk bermacam-macam keperluan tergantung pada bentuk pahat itu yang diantaranya untuk memotong, membuat alur, meratakan bidang, membuat sudut, memperbaiki titik pusat dan sebagainya.

Gambar 2.42 Pahat tangan

Jenis – jenis pahat :
1.      Pahat picak.
Pahat picak digunakan untuk memotong pelat logam, memotong logam pada logam yang mempunyai permukaan yang tidak rata, memotong kepala paku keeling dan merusak kepala baut.

         
Gambar 2.43 Pahat picak




2.      Pahat alur.
Pahat alur digunakan untuk membuat alur – alur sejajar dan membagi permukaan yang besar sebelum dipotong dengan pahat picak. Sisi potong sedikit lebih besar daripada badan potongnya. Ini dimaksudkan untuk menghindari penjepitan pada badan pahat alur.
       
Gambar 2.44 Pahat alur

3.      Pahat Bundar (pahat alur minyak).
Pahat bundar dipergunakan untuk membuat alur saluran minyak pada bantalan (bearing).
    
Gambar 2.45 Pahat bundar

4.      Pahat Intan.
Pahat intan digunakan untuk membuat alur – alur yang berbentuk V pada logam, membersihkan sudut – sudut dalam dan memotong pada sudut siku – siku.
Gambar 2.46 Pahat intan

Cara atau teknik memegang pahat dan mengarahkan pahat, menurut bentuk dan ukurannya adalah sebagai berikut :
-          Untuk pahat kecil menggunakan 3 jari.
-          Untuk pahat yang sedang menggunakan 5 jari.

-          Untuk pahat yang besar dengan menggenggam pahat.
  
Gambar 2.47 Teknik memegang pahat

Faktor yang perlu diperhatikan dalam pemahatan sebagai berikut :
-          Arah mata
Pada waktu memahat, mata harus tertuju pada mata pahat (Gambar 104). Karena dengan melihat ke arah mata pahat diharapkan sasaran pahatan dapat tercapai.
-          Selama pemukulan sumbu dari paku besi harus lurus dengan sumbu pahat.
-          Lindungi orang lain dari tatal – tatal yang berterbangan.
-          Kepala pahat harus dijaga bentuknya, diperbaiki dengan menggerinda.
Gambar 2.47 Sikap pandangan mata dan tubuh saat pemahatan


-          Kedudukan pahat.
Pada waktu memotong baja pelat, maka kedudukan pahat harus dimiringkan ± 30º terhadap benda kerja Gambar 105.
            
Gambar 2.48 Kedudukan pahat














2.10 PEMBUATAN ULIR
2.10.1 Pembuatan Ulir Dalam
Tap adalah suatu alat yang digunakan untuk membuat ulir dalam dengan tangan atau mesin. Tap ini dibuat berbentuk ulir luar yang digerinda dengan tiga atau lebih lekukan memanjang, yang disebut alur. Alur inilah yang membentuk sisi-sisi pemotongnya. Tap dibuat dari bahan baja dengan kecepatan tinggi. Ada juga yang terbuat dari bahan baja karbon yang dikeraskan.
Gambar 2.49 Jenis Tap ulir

Dalam pembuatan ulir yang harus diperhatikan adalah syarat dua buah ulir luar-dalam dapat dipasangkan :
  1. Jenis ulir harus sama.
  2. Diameter ulir bersuaian.
  3. Pits / Gangs ulir harus sama.
Perhatikan gambar 2.49 diatas dimana tiap satu set dari 3 buah tap yaitu tap no.1 (Intermediate tap) mata potongnya tirus digunakan untuk pengetapan langkah awal, kemudian dilanjutkan dengan tap no. 2 (Tapper tap) untuk pembentukan ulir, sedangkan tap no. 3 (Botoming tap) dipergunakan untuk penyelesaian. Contoh penulisan spesifikasi tap dan snei adalah sebagai berikut :
  1. Tap/snei M10 x 1,5.
Artinya adalah : M = Jenis ulir metrik
  10 = Diameter nominal ulir dalam mm
 1,5 = Kisar ulir


  1. Tap/snei W 1/4 x 20, W 3/8 x 16.
Artinya adalah : W = Jenis ulir Witworth
    ¼ = Diameter nominal ulir dalam inchi
   20 = Jumlah gang ulir sepanjang satu inchi




Perlengkapan dan pemeriksaan
Pemegang tap (Stang tap) harus mempunyai ukuran yang sesuai dan memadai, sehingga memungkinkan penjepitan dengan baik pada bagian kepala tap segi empat pada tangkai tap.
Gambar 10.1 buku poltek hal 45.
Gambar 2.50 Pemegang tap ulir

Berikut beberapa teknik/cara pengetapan dengan tangan :
-          Melubangi benda kerja dengan mata bor yang diameternya sesuai.
-          Countersink lubang benda kerja yang akan di Tap, dengan diameter terbesar sesuai dengan kebutuhan.
-          Jepit tap No. 1 dalam pemegang tap (stang tap).
-          Lakukan pengetapan dengan tekanan searah dengan lubang, supaya tap memotong atau membuat ulir, gunakan Olie/pelumas pemotong untuk logam, putar selama beberapa kali putaran.
-          Periksa dengan penyiku apakah sudah tegak lurus terhadap lubangnya.
-          Apabila kedudukan tap miring, dapat diperbaiki dengan memberi tekanan yang ringan pada bagian yang berlawanan sambil memegang tap diputar. Setelah kedudukan tap lurus, dianjurkan untuk memutar tap dengan setengah putaran kearah sebaliknya untuk memotong beram – beramnya. Untuk pengetapan yang dalam sebaiknya permukaan kembali sampai keluar untuk mengeluarkan beram – beramnya.
-          Periksa kembali dengan penyiku.
-          Lanjutkan pengetapan dengan tap No. 2 dan kemudian tap No. 3.


 2.11 PENGGARIS SIKU
     
      Siku adalah alat yang digunakanuntuk mengukur kerataan benda kerja , menarik garis-garis pada benda kerja dan membuat sudut  90̊ atau siku-siku.
      Caramenggunakanya adalah dengan menempatkan siku tegak lurus dengan benda kerja. Kemudian dilihat permukaan benda apakahsudah rata atau siku-siku dengan cara menggerakkan siku ini kedepan dan kebelakang. Apabila masih terlihat lubang pada permukaan benda kerja tersebutberarti permukaan tersebut belum rata

Description: http://www.pusathardware.com/upload/Penggaris%20ibachi%20siku%2010%20inc_20130201084124.jpg


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar